Penebaran COVID-19 sekarang ini makin hari makin bertambah di beberapa Negara serta telah menebar di 190 negara, termasuk juga Indonesia.
Tingkat penebaran serta positif COVID-19 makin bertambah hingga banyak negara yang memakai tehnologi untuk memantau penebaran COVID-19 di negara semasing.
Sekarang ini masing-masing negara, termasuk juga Indonesia sudah mengaplikasikan kebijaksanaan yang disebutkan dengan physical distancing, yakni kebijaksanaan untuk menahan penebaran epidemi dengan jaga jarak di antara tiap perorangan serta kurangi frekwensi tatap muka antara mereka.
Menurut riset yang sudah dilaksanakan selama saat epidemi, data handphone mainkan fungsi yang perlu dalam membendung penebaran COVID-19. Dalam masalah di Swiss, dimana telah ada lebih dari pada 15.000 orang yang positif terkena COVID-19, pemerintah ditempat sudah kerja.
Gambar 2. Flowchart di atas memperlihatkan jumlah masalah terkena COVID-19 pada penjuru dunia sampai sekarang ini. Di Amerika Serikat (AS), beberapa startup sedang kerjakan aplikasi untuk pengawasan serta mencari tempat berlangsung penebaran COVID-19. Pemerintah AS sedang melakukan komunikasi dengan Facebook, Google, serta perusahaan tehnologi yang lain mengenai peluang memakai data tempat serta gerakan dari telephone pegang untuk memutuskan rantai penebaran COVID-19.
Beberapa negara Eropa memakai telephone pegang untuk memperhatikan berapa baik penduduknya patuhi anjuran pemerintah tidak untuk beraktivitas di luar rumah.
Gambar 3. Tabel di atas adalah jumlah masalah terkena COVID-19 di Amerika Serikat. Di Indonesia, pemerintah sudah lakukan kebijaksanaan untuk kurangi rantai penebaran COVID-19 dengan lakukan social distancing supaya penebaran tidak bertambah serta menolong beberapa klinis untuk garda paling depan dalam mengatasi epidemi COVID-19.
Berdasar beberapa riset, pemakai telephone pegang ( smartphone ) di Indonesia melewati jumlah masyarakat yang ada, hingga dapat disebutkan jika sebagian besar masyarakat di Indonesia mempunyai hp. Pemakai handphone (hp) di tanah air capai 371,4 juta pemakai atau 142 % dari keseluruhan populasi sekitar 262 juta jiwa.
Pemerintah lakukan kerja sama juga dengan operator mobile yang berada di Indonesia untuk memperhatikan gerakan warga, tentu saja dengan jaga privacy seorang. Dengan memakai tehnologi data hp untuk mencari keramaian, aparat yang berwajib bisa membubarkannya.
Gambar 4. Jumlah pemakai hp di Indonesia Disamping itu, pemerintah Indonesia akan membuat aplikasi berbasiskan tehnologi info untuk ketahui serta meramalkan siapapun yang melakukan kontak dengan pasien positif corona dan penebaran virus dapat dicari secara baik masih juga dalam proses peningkatan serta diinginkan usai dalam tempo dekat.
Cara Menangkan Permainan Mix Parlay Taruhan Bola Online
Korea Selatan adalah salah satunya negara yang sangat tajam dengan tehnologi. Saat epidemi COVID-19 sudah capai semenanjung Korea, beberapa developer serta vendor handphone langsung bereaksi membuat beberapa aplikasi penjagaan dari virus corona.
Lewat aplikasi mobile itu, mereka menolong masyarakatnya untuk mengetahui diri atau mencari epidemi penyakit itu. Beberapa aplikasi yang dibikin juga sudah menempati rangking paling atas di toko online Google Play.
Beberapa macam aplikasi ini, sangat mungkin pemakainya untuk mengawasi banyaknya pasien yang positif terkena COVID-19. Data yang diperlihatkan mencakup kewarganegaraan, tipe kelamin, dan umur, serta dimana beberapa tempat yang sempat didatangi pasien terkena.
Aplikasi ini dapat juga mempertimbangkan jarak di antara mereka dengan pasien. Berikut beberapa macam aplikasi untuk penghentian rantai COVID-19 di Korea Selatan :
1. KakaoTalks
KakaoTalks ialah aplikasi pesan instant yang sangat terkenal di Korea Selatan. Ikut berperan melawan virus corona, aplikasi ini mengeluarkan beberapa feature menarik. Diantaranya ialah feature tracing penebaran virus corona, data tersedianya masker, dan sebagainya.
2. DdocDoc
DdocDoc adalah aplikasi yang beroperasi di sektor reservasi rumah sakit yang sangat mungkin pemakainya cari rumah sakit serta doktor dengan gampang.
Disamping itu, DdocDoc memberi service diskusi kesehatan. Hadapi epidemi virus corona. Aplikasi DdocDoc membuat peta digital tersedianya masker di beberapa kota besar Korea Selatan. Buat tenang, DdocDoc mempermudah masyarakatnya supaya tidak mengantre kelamaan waktu beli masker.
3. Azar
Azar ialah aplikasi bikinan korea Selatan yang beroperasi di sektor komunikasi. Aplikasi ini dapat membantumu berjumpa dengan rekan baru dari penjuru dunia. Warga Korea Selatan dapat memakai aplikasi Azar supaya tidak depresi waktu di dalam rumah. Sekali usap, masyarakat Korsel dapat sama-sama tersambung dengan gampang.
4. Kokkiri
Kokkiri ialah aplikasi meditasi yang menolong pemakainya cari ketenangan ditengah-tengah epidemi virus corona. Featurenya sederhana tetapi benar-benar menolong. Masyarakat Korea Selatan dapat coba beberapa tipe meditasi yang ada di aplikasi ini.
Menurut saya, memang sekarang ini Indonesia belum jadi negara maju atau bertumbuh seperti Korea Selatan. Tapi untuk tehnologi Indonesia pun tidak kalah perkembangan.
Maka dari itu, warga Indonesia bisa mengikuti Korea Selatan untuk memutuskan rantai penebaran COVID-19 dengan membuat aplikasi Shopay. Dimana Aplikasi Shopay ini mempunyai peranan untuk beli beberapa bahan inti seperti pasar atau swalayan dengan cara online.
Disamping itu aplikasi Shopay dapat tingkatkan physical distcancing yang mana sekarang ini pemerintah sarankan supaya masalah COVID-19 di Indonesia turun. Langkah pemakaian Shopay ini benar-benar gampang, kita tinggal pesan beberapa bahan inti yang kita perlukan, selanjutnya bayar dengan cara online memakai ovo, gopay, serta transaksi mobile yang lain.
Sesudah order, barang akan diambilkan di swalayan atau pedagang pasar itu. Selanjutnya barang akan diantar oleh ojek online yang ada. Janganlah lupa, waktu barang tiba langsung disemprotkan desinfektan pada plastik berbelanja yang sudah diterima.
Lalu, langsung bersihkan sayuran serta buah jika beli barang itu supaya masih terbangun kebersihannya selanjutnya di taruh dalam wadah tertutup.






