Selasa, 09 Juni 2020

Transformasi Digital Kehidupan



Bambang Iman Santoso, ST, MM Bambang salah satu Co-Founder Neuronesia – komune pencinta pengetahuan neurosains, serta sekaligus juga untuk CEO di NLC – Neuronesia Learning Center (PT Neuronesia Neurosains Indonesia). Alumnus Magister Manajemen Kampus Indonesia (MM-UI) ini, adalah seorang pegiat dengan pengalaman kerja serta melakukan bisnis semasa 30 tahun. Mulai kerja melalui kariernya sejak kuliah, dari tempat paling bawah untuk Operator radio tayangan, s/d tempat pucuk untuk General Manajer Seksi Tehnik, Asistant to BoD, atau Pemasaran Director, serta Managing Director di sejumlah perusahaan swasta. Berbakti di beberapa perusahaan serta bermacam industri, baik perusahaan lokal di bagian broadcasting serta telekomunikasi (seperti PT Radio Prambors serta Masima Grup, PT Infokom Elektrindo, dlsbnya), atau perusahaan multinasional yang bergerak di industri pertambangan seperti PT Freeport Indonesia (di MIS Department untuk Network Engineer). Tahun 2013 putuskan kariernya stop kerja serta mengawali melakukan bisnis untuk konsentrasi membesarkan usaha-usahanya di bagian Advertensi PR (Public Relation), konsultan Taktikc Pemasaran, Community Developer, serta untuk Advisor untuk Broadcast Engineering Equipment. Dan menolong serta membesarkan usaha istrinya di bagian konsultan Signage – Desain Build, terutamanya di industri Properti – commercial buildings. Kecuali pimpin serta membesarkan komune Neuronesia, saat ini memegang sebagai Presiden Komisaris PT Gagasnava, Managing Director di Sinkromark (PT Bersama-sama Indonesia Sukses), serta sebagai Pendiri Former Ketua Koperasi BMB (Berpadu Maju Bersama-sama) – Keluarga Alumni Kampus Pancasila (KAUP).

Jakarta, 26 Mei 2020. Beberapa orang sebelumnya demikian dengar kata "transformasi digital" cuma mendefinisikan atau memandangnya suatu hal arti yang teoritis.

Tetapi proses transformasi tersebut tanpa ada diakui dengan cara setahap masih berlangsung, serta makin kesini dirasa akselerasinya makin cepat. Khususnya demikian masuk masa epidemi COVID-19 bersama-sama warga Indonesia makin dekat dengan tehnologi digital ini.

Khususnya dengan tehnologi info, intensif pemakaiannya makin hebat. Seolah-olah ada yang memaksa untuk memakainya tiap hari serta setiap waktu.

Pada saat epidemi kesemua orang diminta kerja di rumah atau work from home. Bukan hanya kerja saja, anak sekolah juga diminta belajar di dalam rumah, kesemua orang lakukan beribadah keagaamaan serta sebagian besar kesibukan yang lain diusahakan dari rumah.

Stay safe at home atau "di dalam rumah saja" tiba-tiba jadi hashtag yang viral topic di dunia virtual. Syukurlah dengan COVID-19, sudah sukses mem-push khususnya warga Indonesia untuk memakai tehnologi digital ini.

Dok. Neuronesia

Kesemua orang saat ini tidak canggung lagi serta sudah melatih diri lakukan diskusi virtual serta memakai aplikasi-aplikasi webinar. Seperti; zoom, cisco webex, google rapat, microsoft tims, dan lain-lain. Sesaat kemungkinan sebagian orang serta sedikit, awalnya sudah lakukan pembicaraan video dengan skype, facetime serta whatsapp video call.

Begitupun, sebetulnya beberapa orang juga sudah terlatih lakukan webinar sejak 3-4 tahun lalu. Tapi kemungkinan jumlah pemakainya masih begitu sedikit. Tetapi perkembangannya saat ini benar-benar relevan, eksponensial meledak ya.

Hampir handphone kesemua orang terinstal aplikasi webinar layaknya seperti memakai sosial media yang lain (twitter, facebook, instagram, youtube, linkdin, whatsapp dan lain-lain).

COVID-19 seolah-olah memaksakan kita semakin intensif lagi memakainya. Termasuk juga kita manfaatkan aplikasi-aplikasi di gagdet untuk pesan taxi online, mengantarkan barang, pesan makanan-minuman, beli kepentingan setiap hari, serta beli sayur serta buah-buahan dengan cara online, seperti aplikasi

Karena itu di masa epidemi ini ada-ada saja beberapa pihak yang diuntungkan dengan cara usaha. Ada banyak industri yang malah tumbuh. Seperti industri IT serta telekomunikasi, industri kesehatan/klinis/farmasi, industri supply-chain, industri pendidikan serta training dengan cara online, dan masih banyak.

Menurut Prof. Suhono Harso Supangkat, guru besar ITB yang kesempatan ini untuk nara sumber isi acara ngobdar - bercakap dalam jaringan bersama-sama komune Neuronesia (01/05/2020), mengatakan dalam waktu epidemi berikut peluang kita agar bisa lakukan proses transformasi digital dengan cara mendalam.

Meskipun sebetulnya, untuk beberapa basis kemungkinan telah bertumbuh lebih dulu dengan cara persuasif seperti gojek, bukalapak, tokopedia serta beberapa aplikasi yang lain.

Tetapi kenapa platform-platform seperti e-government, smart city, di rasa lamban sekali jalannya ya. Nah saat ini beberapa kementrian baru mengetahui, yang awalnya beliau beberapa kali sudah memperingatkannya jauh sebelum epidemi ini berlangsung. Serta Prof. Suhono pernah melempakarkan inspirasi untuk mengaplikasikan ide flexy working yang terbagi dalam flexy time serta flexy place.

Tujuannya kerja dapat dilaksanakan di dalam rumah, di co-working ruang, di kantor serta dapat dalam tempat yang lain. Ini sempat dikatakan pada Bappenas, serta benar-benar baik jika dilaksanakan (tanpa ada menanti hadirnya COVID-19) sebab bisa merinci kemacetan lalu-lintas, saatnya semakin efektif, serta keuntungan yang lain.

Saat ini semakin luas lagi kita akan mengulasnya. Alhamdulillah kita mendapatkan makna epidemi ini yang jangan keluar rumah. Sebab apa-apa saat ini dilaksanakan dari rumah.

Apa-apa yang kita dapat buat persiapan untuk keberlanjutan. Entahlah itu usaha, entahlah itu keberlanjutan di pada suatu komune, atau untuk berkepanjangan melakukan aktivitas sehari-harinya kita yang lain.

Cara Menangkan Permainan Mix Parlay Taruhan Bola Online

Beberapa pertanyaan dari rekan-rekan korporasi bumn serta swasta yang lain, seperti; 1) mengapa transformasi digital ini perlu untuk dilaksanakan, 2) apakah yang perlu ditransformasikan, serta 3) bagaimana melakukan.

Pertanyaan ini bukan hanya diperuntukkan pada korporasi BUMN serta Swasta, tetapi berlaku untuk sekolah, universitas, komune, serta organisasi-organisasi warga yang lain.

Menurut dia, transformasi sebuah proses perkembangan dengan cara skemaatis untuk capai arah. Transformasi digital tidak lepas dari user, brainware atau manusianya. Menarik diulas dari sudut pandang human, psikologis serta neurosains.

Baik dari faktor perorangan, barisan, atau organisasinya. Kembali lagi pertanyaannya apa organisiasi membutuhkan transformasi? Transformasi apa? Kehidupan kita di dalam rumah perlu transformasi kah? Alat trasnformasinya berbentuk apa? Dan sebagainya.

Transformasi sendiri ada yang dilaksanakan sebab memang diperkirakan, tetapi ada pula sebab kondisinya yang menekan sama dengan masa epidemi COVID-19 saat ini.

Pentingnya transformasi digital sesuai keterangan prof. Suhono, pertama sebab ada unsur pendorong tehnologi bertumbuh cepat sekali. Usaha bertumbuh benar-benar cepat. Keperluan serta kemauan manusia terus makin bertambah. Termasuk juga ingin belanja dengan cara online.

Ada perkembangan sikap serta hubungan dengan konsumen setia serta partner yang bertambah, sama seperti yang sempat penulis paparkan di penulisan-penulisan awalnya.

Setelah itu sebab keperluan ada produk serta mode usaha baru. Optimalisasi serta manajemen memiliki usaha. Kecepatan dan kemudahan dalam beberapa hal jadi kewajiban. Kestabilan, keamanan, kredibilitas serta tersedianya info yang non-stop.

Dengan cara karieronal, arah transformasi digital ada 5 hal terkait; 1) buat tingkatkan efektivitas atau improve efficiency, 2) untuk mendapatkan keunggulan operasional serta service, atau operational and service excellence, 3) bemanfaat untuk pengendalian risiko atau managing risk, 4) mempunyai tujuan tingkatkan nilai konsumen setia atau enhance konsumen value, serta paling akhir 5) agar mendapatkan kesempatan monetisasi baru atau uncover new monetization opportunities.

Untuk bertahan hidup, supaya masih berkepanjangan kesibukan pekerjaan yang dilaksanakan dari rumah, agar pekerjaan anak sekolah masih berkaitan meskipun proses belajarnya di dalam rumah, dan lain-lain.

Oleh sebab perkembangan tehnologi internet enables communication between millions of connected computers worldwide, hingga kita bisa terkait dengan tiap manusia dimanapun dengan cara gampang semasa tersambung dengan koneksi internet serta mempunyai aksesnya.


Serta kita dengan cara gampang bisa beralih dari hadiri satu rapat ke rapat virtual yang lain dengan cepat sekali. Tak perlu berusaha susah payah pesan ticket pesawat atau kereta, atau harus berjam-jam serta bermacet ria memakai kendaraan yang lain.

Banyak usaha yang usai mati. Tetapi saat ini banyak pula yang berkembang seperti yahoo, google, facebook, whatsapp, bukalapak, tokopedia dan lain-lain.

Bagaimana nasibnya seperti PT Pos Indonesia, yang pada akhirnya saat ini turut menolong kirim pertolongan sosial ke beberapa daerah plosok. Bagaimana juga dengan PT Telkom Indonesia?

Bagaimana tehnis pengiriman uang pada warga miskin yang tidak punyai rekening bank serta tidak mempunyai nomor telephone dan koneksi internet. Ada banyak permasalahan berkaitan proses digitalisasi yang perlu semakin mem-backup semua susunan warga.

Masih ingat dahulu kan cerita perjalanan bisnisnya Nokia serta Kodak, sebutkan perkembangan transformasi digital gelombang satu. Jadi sebetulnya siapa yang harusnya beralih serta siapa yang sudah alami perkembangan. What really change is... manusianya tersebut. The very nature of people is change due to internet.

Jika kita masuk mengulas manusianya, berarti kita akan bersinggungan dengan generasi milenial. Generasinya beralih. Ada generasi X, generasi Y, serta pada akhirnya kita menyebutkan C Gen atau Generasi C dengan beberapa ciri karakter ciri-ciri sikapnya sbb; kreatif, cepat, kolaboratif, no limited to location, serta always connected to the internet.


Transformasi digital pada akhirnya berefek pada perkembangan pola hidup. Perkembangan pola hidup menggerakkan perkembangan warga. Warga jadi digitalize serta tidak terbatas oleh batasan fisik.

Pola hidup lama yang dahulu semakin centralized, physical, segmented, serta time-constraint. Sedang pola hidup baru beralih bertambah lebih distributed, virtual, connected, serta timeless.

Timeless, misalnya lewat aplikasi webinar kita bisa lakukan rapat virtual dengan rekan-rekan kita yang ada di beberapa jenis negara dari beberapa belahan bumi serta jam yang lain sekaligus juga.

Perkembangan warga mengakibatkan perkembangan susunan kehidupan. Dari "kota fisik" jadi "kota digital". Pada kota fisik sisi kota sebagai tempat penting hubungan sosial serta ekonomi. Sediakan sumber daya serta daya junjung lingkungan.

Sedang di kota digital, sisi kota jadi tempat hidup data serta info kota. Tersambung ke kota fisik dengan memakai antar muka siber physical.

Kemampuan pendorong disrupsi digital, disrupsi karena ada pendayagunaan tehnologi lanjut ada pada beberapa bagian kehidupan. Keinginannya jadi kehidupan yang semakin berarti. (BIS)