Selasa, 09 Juni 2020

Internet Super Murah ala Elon Musk

Internet murah Elon Musk | Cuma Rp.150.000 Per 1.000 Gb dengan kecapatan 10.000 Mb per Detik

Belakangan ini nama Elon Musk makin moncer, sesudah di hari Sabtu, 30 Mei 2020, perusahaan SpaceX kepunyaannya, sukses mengeluarkan astronot NASA Bob Behnken serta Doug Hurley ke orbit

Lelaki kelahiran Afrika Selatan tahun 1971 ini ialah pendiri Space-X, Tesla Motors, PayPall, OpenAI, SolarCity, serta Neuralink, dan beberapa perusahaan yang lain.

Musk mengatakan jika dengan perusahaan-perusahaan ini dibangunnya dengan arah mengganti dunia serta kehidupan manusia termasuk juga kurangi pemanasan global lewat kenaikan produksi serta mengonsumsi energi terbarukan. Dia mengharap bisa kurangi "efek musnahnya umat manusia" dengan tingkatkan tehnologi untuk hidup di planet lain, terutamanya di Mars

Pratama Persadha, ahli keamanan cyber dari Communication and Informatian Skema Security Research Center (CISSReC) memperingatkan pelaku bisnis provider di Tanah Air berkaitan dengan gagasan Elon Musk membuat internet kencang serta murah.

Dosen Etnografi Dunia Maya pada Program Studi S-2 Antropologi UGM Yogyakarta ini memandang harapan Elon Musk mengagumkan sekaligus juga memunculkan intimidasi tertentu buat dunia usaha di Tanah Air, seperti usaha provider, yakni internet kencang tanpa ada fiber optik sebab semua full dukungan dari satelit

Pada bulan April 2020 Ruang X mengeluarkan 60 satelit untuk program Starlink, yakni program internet murah. Elon Musk bercita-cita mengeluarkan internet murah diakhir 2020 di Kanada serta Amerika Serikat. Paket paling murah yang dibanderol Elon Musk gagasannya sebesar 9,99 dolar AS (Rp150 ribu) untuk 1.000 gigabyte dengan kecapatan 10.000 megabyte per detik

Apa sidang pembaca saat ini sedang ada di zone nyaman, sebab dapat dengan gampang memperoleh koneksi internet nyaris di semua daerah Indonesia, baik lewat wifi gratis dikantoran atau berbayar seperti lewat abonemen pribadi atau lewat wifi di kafe-kafe? Atau ada pula yang berasa jika koneksi internet di Indonesia masih demikian lambat tidak cocok janji provider dan bernilai mahal?

Jika menurut penulis, terus jelas saja ialah termasuk juga kelompok yang ke-2. Sebab menurut pengalaman, koneksi internet di Indonesia tidak sesuai janji-janji provider. Apalagi bila dihubungkan dengan janji kecepatan akses dari provider.

Kita pasang yang kecepatannya 20 Mbps, rupanya bila ada momen penting misalnya di saat epidemi Covid-19 seperti sekarang ini atau pada saat malam hari, aksesnya dapat cuma pada kecepatan kbps saja, sebab untuk untuk unduh file 5MB saja dapat memerlukan waktu berjam-jam dan seringkali putus-nyambung seperti pacaran saja. Hingga tanpa ada sadar semua nama hewan di kebun binatangpun melaju dari mulut kita.

Belum juga pada saat penulis memasangnya, paketnya banyak serta jangan pilih, walau sebenarnya yang dibutuhkan cuma untuk koneksi internet saja. Tapi sebab saat itu tidak ada pilihan, ya apa bisa bikinlah. Penulis memang belum pernah protes, sebab jika lihat di sosial media, protes beberapa pengguna dari semua Indonesia demikian berjibun seperti laci doa di filem Bruce Almighty.

Tapi kelihatannya beberapa provider menggunakan jurus tuli bin bisu saja, jadi semua protes itu sama juga seperti menyiraminya se ember air ke permukaan gurun sahara. Hingga penulis semakin pilih untuk diam saja serta melatih diri saja dengan semua ketidak-nyamanan serta ketidak-puasan itu, itu Indonesiaku.

Cara Menangkan Permainan Mix Parlay Taruhan Bola Online

Dari bagian harga, jika diukur dengan pendapatan penulis, karena itu harga yang diaplikasikan oleh beberapa provider itu masih begitu mahal. Hingga tempo hari saat ada terbersit khabar angin perusahaan google ingin membuat internet murah di dunia dengan skema balon udara, penulis telah bersorak kegirangan. Sebab terus jelas saja, biaya berlangganan penulis yang ada saat ini itu cukup untuk beli beras 63 kg, keperluan beras kami sekeluarga untuk sebulan.

Yang akan datang, tehnologi akan makin murah, gampang, serta cepat. Sejauh ini ada kecondongan beberapa provider itu memakai skema pemaksaan. Contohnya, satu kartu itu ada waktu hidupnya, satu paket ada juga masa aktif atau ada waktu hidupnya.

Ini tentunya mempunyai tujuan untuk memperoleh minimum penghasilan perusahaan tiap bulannya. Memang dari sisi perusahaan, ini ialah taktik yang tepat sebab mereka dapat membuat sasaran penghasilan minimum perbulan. Tetapi tidak begitu buat customer, sebab komsumen maunya kartu SIMnya itu hidup terus selama hidup tak perlu dihidupkan dengan beli paket atau paket.

paket atau paket internetnya tidak ada skema kedaluwarsanya, terserah customer yang menggunakannya apa ingin boros-boros sebab jika ia memang kaya raya, atau hemat sesuai kebutuhannya sebab keuangannya yang benar-benar seret tapi perlu tetap berinternet ria.

Apakah yang akan ditawarkan oleh Elon Musk, ialah satu revolusi di bagian kecepatan serta murahnya harga abonemen internet. Seharusnya beberapa provider di Indonesia harus introspeksi diri dari sejak saat ini, sebab tahun 2021 itu tidak kelamaan lagi.

Beberapa provider harus pintar menarik hati customer, jangan membuat customer diam-diam sakit hati tidak berlawan, sebab tidak ada pilihan. Sebab demikian ada pilihan, bisa customer balas sakit hati, walau harga yang ditawarkan itu sama, ia bisa masih ke lain hati.

Seharusnya beberapa provider di Indonesia, lakukan beberapa perbaikan ini. Kartu SIM tidak perlulah ada skema matinya, terkecuali enam bulan tidak aktif. Paket atau paket internet tidak memerlukan skema matinya atau ada periode saatnya, biarlah konsumen setia yang dengan cara arif menggunakannya sampai habis sesuai dengan keperluan serta kekuatan keuangannya, sebab tidak kesemua orang punyai banyak uang yang tetap ada untuk beli paket atau paket internet.

Disamping itu , beberapa hal semacam ini ialah pemborosan, sebab tidak sesuai semangat hidup bangsa kita untuk melatih diri menabung serta tetap hemat dalam kehidupan.

Untuk customer, ini perlu saya usulkan, sebab beberapa provider itu sebetulnya dapat untuk melakukan perbuatan semacam itu, ini ditunjukkan mereka tetap memperoleh keuntungan triliunan atau serta beberapa puluh triliun rupiah tiap tahunnya. Walau sebenarnya itu setelah dipotong dengan ongkos operasional, untuk infrastruktur, serta upah karyawan dan keharusan yang lain.

Saran ini dapat juga diambil faedahnya oleh provider spesifik, sebab customer pasti berubah padanya bila beberapa hal ini diaplikasikan di Indonesia. Atau siapa tahu ada juga seorang atau sekumpulan orang yang punyai uang, lalu membangun usaha provider internet baru yang semakin friendly di kantong customer.

Perusahaan perlu dengar suara customer. Perlu direspon dengan arif, sebelum gagasan Elon Musk terealisasi. Tahun 2021 itu telah di muka mata. Belajarlah dari kemunduran Kodak. Bagaimana perusahaan berumur semakin serratus tahun saja dapat pailit, apalagi beberapa provider kita yang baru berusia beberapa puluh tahun. Berbaik hatilah pada customer, jangan cuma fokus keuntungan semata-mata.